Kamis, 17 Mei 2012

LAPORAN FISTER DIGESTI TERNAK


SISTEMA DIGESTI

Tinjauan Pustaka
Sistem Digesti Ruminansia
Pencernaan dapat diartikan sebagai pengelolaan pakan sejak masuk mulut hingga pakan dapat diabsorbsi oleh usus. Pengelolaan pakan dapat dilakukan dengan dua jalan yaitu secara mekanik dan khemik. Sistem pencernaan berguna untuk mengubah zat-zat yang terdapat di dalam makanan menjadi senyawa yang lebih sederhana hingga dapat diserap dan digunakan sebagai energi, membangun senyawa-senyawa lain untuk keperluan metabolisme. Sistem pencernaan ternak ruminansia berupa sistem pencernaan poligastrik, terdiri atas mulut, oesophagus, rumen, retikulum, omasum, abomasum, small intestinum (usus halus), coecum, large intestinum (usus besar), rektum, dan anus (Frandson, 1992).
Lambung ruminansia yang terdiri atas empat bagian yaitu rumen, retikulum, omasum, dan abomasum dengan ukuran yang bervariasi sesuai dengan umur dan makanan alamiahnya. Kapasitas rumen 80%, retikulum 5%, omasum 7 sampai 8%, dan abomasum 7 sampai 8%. Pembagian ini terlihat dari bentuk gentingan pada saat otot sfinkter berkontraksi (Srigandono, 1996). Kemampuan dari ternak ruminansia adalah mengembalikan makanan dari retikulum-rumen ke mulut yang disebut dengan regurgitasi, untuk dikunyak kembali. Proses ruminasi pada ternak ruminansia, yaitu regurgitasi, remastikasi, reinsalivasi  dan redeglutisi  (Kamal, 1994).
Domba sering melakukan ruminasi atau memamah biak, terutama ketika dalam keadaan istirahat. Bolus dalam rumen akan dikeluarkan kembali ke mulut untuk dikunyah menjadi halus. Setelah halus, pakan tersebut akan ditelan lagi dan masuk menuju retikulum. Bentuk retikulum menyerupai sarang lebah mencegah benda-benda asing (seperti kawat) untuk tidak terus bergerak ke saluran pencernaan lebih lanjut. Retikulum sering kali tertusuk oleh benda-benda tajam sehingga menyebabkan penyakit hardware. Keadaan ini dapat bersifat fatal karena letak jantung berdekatan dengan retikulum (Purbowati, 2009).

Sistem Digesti Unggas
Organ pencernaan unggas khususnya ayam terdiri atas mulut (paruh), oesophagus, tembolok (crop), proventikulus, empedal (gizzard), duodenum, jejenum, ileum, sekum (usus buntu), rektum, dan kloaka. Adapun organ pencernaan tambahannya adalah hati, getah empedu, pankreas, dan lien atau spleen (Yuwanta, 2004).
Proses digesti pada unggas khususnya pada ayam mempunyai alat pencernaan yang khas, misalnya pada gizzard yang di dalamnya terdapat grid (kerikil atau pasir halus) yang membantu proses pencernaan secara mekanik. Tembolok (crop) yang merupakan pembesaran oesophagus, berfungsi sebagai tempat menyimpan makanan sebelum masuk ke dalam proventikulus, disamping itu terdapat beberapa bakteri yang aktif yang dapat menghasilkan asam organik, yaitu: asam asetat dan asam laktat. (Kamal, 1994)
Pola pencernaan makanan pada unggas umumnya mengikuti pola pencernaan makanan pada ternak non ruminansia. Tetapi terdapat berbagai modifikasi. Unggas memiliki usus besar yang pendek dibandingkan dengan hewan non ruminansia yang lain. Di usus besar ini aktivitas jasad renik, tetapi sangat rendah dibandingkan dengan ternak non ruminansia lain (Hartadi dkk., 2008).

Sistem Digesti Kelinci
Organ pencernaan kelinci terdiri dari mulut, oesophagus, stomach, small intestinum, caecum, colon, rektum, dan anus. Kelinci makan dan mengunyah makanannya kurang lebih 300 kali, lalu makanan turun ke oesophagus (kerongkongan). Makanan masuk ke lambung, tetapi reaksi sebenarnya bukan di sana. Lambung menyimpan makanandan isinya disterilisasi dan dipindahkan ke usus halus. Di usus halus, 90% protein, karbohidrat, dan gula diserap dari makanan. Kemudian bahan-bahan berserat yang tidak tercerna bergerak dan diseleksi. Serat bergerak ke colon (usus besar) dan membentuk tinja yang keras. Sisa makanan yang siap untuk dicerna bergerak ke caecum yang lebih besar dari lambung. Tinja keras yang melewati caecum digerakkan ke colon dalam gerakan memutar dan membentuk bola-bola bulat dan keras (Anonim, 2000).
Caecum adalah batas antara usus halus dan usus besar. Caecum berisi enzim-enzim dan bakteri pemecah makanan. Setiap 3 sampai 8 jam sehari caecum berkontraksi dan mendorong bahan-bahan tersebut kembali ke colon dimana bahan-bahan tersebut dibungkus oleh sejenis lendir, kemudian keluar melewati anus. Kelinci mencerna kembali cocethropes untuk mendapatkan lebih banyak nutrisi. Ini adalah bagian yang sangat penting dari proses pencernaan agar kelinci tetap sehat (Anonim, 2000).
Kelinci dewasa menyerap protein sampai 90%. Protein dari alfalfa, sebagai contohnya, tidak dapat dicerna oleh kelinci. Kelinci sangat payah dalam hal mencerna selulosa (Fraga, 1990). Daya cerna yang lemah terhadap serat dan kecepatan pencernaan kelinci untuk menyingkirkan semua partikel yang sulit dicerna menyebabkan kelinci membutuhkan jumlah makanan yang besar atau banyak (Sakaguchi, 1992).


Materi dan Metode

Materi
Alat. Alat yang digunakan adalah lembar kerja, penggaris, alat tulis, sarung tangan, dan masker.
Bahan. Bahan yang digunakan adalah awetan organ pencernaan ayam, domba, dan kelinci.

Metode
            Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah pengukuran panjang dan lebar dari organ-organ pencernaan, menerangkan fungsi dari organ-organ tersebut, dan menggambarkan awetan organ pencernaan ayam dan domba dengan memperhatikan semua bagian-bagiannya.


Hasil dan Pembahasan

Sistem Digesti Ruminansia
Organ pencernaan pada ternak ruminansia terdiri dari mulut, oesophagus, rumen, retikulum, omasum, abomasum, small intestinum (duodenum, jejenum, ileum), large intestinum, rektum, dan anus (Kamal, 1994). Mulut berperan sebagai alat prehensil. Mulut utamanya digunakan untuk memotong, menggiling pakan, dan mencampurnya dengan saliva. Prehensil pada kambing menggunakan gigi (Frandson, 1992). Dari pecobaan digesti pada ruminansia khususnya pada domba diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 1. Bagian-bagian dan ukuran organ digesti pada ruminansia
Organ Pencernaan
Ukuran
Panjang (cm)
Lebar (cm)
Oesophagus
Lambung
-       Rumen
-       Retikulum
-       Omasum
-       Abomasum
Small intestinum
-       Duodenum
-       Jejunum
-       Ileum
Coecum / ceka
Large intestinum
Rektum
Anus
20
-
14
10
7,5
19
-
85
713
506
52
212
32
6
2
-
15
7,5
5,5
6
-
1
0,9
1
2,8
1,6
1,8
2,5
Pencernaan di dalam mulut terjadi secara mekanik dan kimiawi. Di dalam mulut terjadi proses mastikasi, salivasi, dan deglutisi. Menurut Kamal (1994), mastikasi bertujuan untuk menghaluskan atau mengecilkan ukuran pakan sehingga mempercepat hidrolisis, mencegah terjadinya luka pada saluran pencernaan, dan memudahkan penelanan. Salivasi merupakan pencampuran air ludah dan makanan yang berfungsi sebagai pelincir saat penelanan. Air liur mengandung kira-kira 99% air dan 1% yang terdiri dari musin, mineral-mineral, dan enzim alfa-amilase (Hartadi dkk., 2008). Saliva dicurahkan ke dalam mulut oleh tiga pasang kelenjar saliva yaitu kelenjar submaksilaris dan kelenjar submandibularis yang terletak pada setiap sisi rahang bawah, kelenjar sublingualis yang terletak di bawah lidah, dan kelenjar parotis yang terletak di depan masing-masing telinga (Kamal, 1994).
Oesophagus merupakan tempat lewatnya makanan dari mulut ke stomach, yang merupakan saluran dari pharinx ke kardia (Kustono dkk., 2008). Oesophagus tidak mengsekresikan enzim sehingga tidak mempunyai fungsi pencernaan kemik. Organ ini dilapisi membran mukosa pada permukaannya (Hartadi dkk., 2008).
Lambung pada ternak ruminansia dibagi menjadi empat ruangan, terdiri dari rumen, retikulum, omasum, dan abomasum. Rumen berbentuk kantong muskular yang besar terentang dari diafragma menuju ke pelvis dan hampir menempati sisi kiri dari rongga perut. Menurut Kamal (1994), isi rumen tersusun dari air sebanyak 85 sampai 93% dan sering dibagi menjadi 2 bagian yaitu bagian bawah keadaannya cair dengan partikel-partikel pakan yang larut dan bagian atas yang mengandung bahan pakan yang masih kasar. Pada keadaan normal pH isi rumen dipertahankan antara 5,5 sampai 6,5 untuk mempertahankan kehidupan mikroorganisme yang tidak tahan terhadap pH yang kurang dari 5,5.
Rumen mulai berfungsi bila mikroflora dapat ditemukan (kurang lebih  4 sampai 6 minggu), mencerna serat kasar tergantung mikroflora yaitu jumlah dan kualitasnya. Tanda-tanda bahwa rumen berfungsi yaitu bau rumen yang tidak enak, turunnya kadar glukosa darah, dan meningkatnya kadar VFA atau Volatil Fatty Acid atau asam lemak terbang (Kustono dkk., 2008).
Retikulum merupakan bagian dari lambung yang berbentuk menyerupai sarang tawon atau lebah, terletak di belakang diafragma, dan pada bagian dalamnya diselimuti oleh membran mukosa. Di dalam retikulum terjadi proses ruminasi yaitu regurgitasi, reinsalivasi, remastikasi, dan redeglutisi. Regurgitasi adalah proses dimana pakan yang sudah masuk dari rumen menuju retikulum, dikembalikan lagi ke mulut ternak ruminansia. Reinsalivasi adalah pencampuran air ludah (saliva) dengan pakan. Remastikasi adalah proses pengurangan ukuran pakan contohnya mengunyah, memotong, dan menghaluskan. Redeglutisi merupakan proses penelanan kembali pakan ke dalam stomach. Di dalam reticulum terdapat mikroorganisme yang dapat memecah selulosa dan karbohidrat komplek yang lain, yang mana pada manusia atau mamalia lain proses enzimatik tidak dapat menghidrolisisnya.
Omasum merupakan bagian lambung yang ketiga, terletak di sebelah kanan rumen dan retikulum. Permukaan omasum terdapat lamina-lamina, berbentuk seperti buku-buku. Fungsi utama omasum yaitu menggiling makanan atau partikel makanan,  mengabsorbsi asam lemak terbuang. Sifat mengabsorbsi air pada omasum berfungsi untuk mencegah turunnya pH pada abomasum. Omasum domba dan kambing jauh lebih kecil dibandingkan omasum sapi (Frandson, 1992).
Abomasum   merupakan bagian perut keempat, terletak diventral dari omasum. Abomasum sering disebut perut sejati. Abomasum memiliki pH rendah. Menurut Kamal (1994), abomasum berfungsi sebagai lambung tunggal mirip seperti pada non-ruminansia yang menghasilkan getah lambung berisi pepsin. Sejak dari abomasum dan organ pencernaan berikutnya, proses pencernaan dan absorpsi sama dengan ternak berlambung tunggal atau non-ruminansia.
Small Intestinum atau usus halus terdiri atas tiga bagian yaitu duodenum,  jejenum, dan ileum. Duodenum, jejenum, dan ileum bersambungan dengan batas yang tidak jelas. Duodenum terhubung dengan jejenum, jejenum terhubung dengan ileum, dan ileum terhubung dengan coecum kemudian large intestinum. Pada permukaan small intestinum terdapat fili-fili (jonjot-jonjot) yang memperlebar luas permukaan penyerapan. Penyerapan sari-sari makan tertinggi terdapat pada jejenum dan ileum. Di dalam small intestinum terdapat empat macam getah pencernaan yaitu getah duodenum, getah pankreas, empedu, dan getah villi. Getah duodenum bersifat basa, berguna untuk membasahi dan melindungi dinding duodenum dari HCl lambung. Beberapa macam getah villi yaitu sukrase, maltase, laktase, dan oligo glukosidase. Sukrase menghidrolisis sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa. Maltase menghidrolisis maltosa menjadi glukosa dan glukosa. Laktase menghidrolisis laktosa menjadi glukosa dan galaktosa. Oligo glukosidase bekerja pada ikatan alfa dari dekstrin (Kamal, 1994).
Large Intestinum atau usus besar terdiri atas coecum, kolon, dan rektum. Kolon terdiri atas bagian-bagian yang naik, mendatar, dan turun. Di dalam kolon terjadi penyerapan zat-zat yang mungkin masih dapat digunakan oleh tubuh ternak dan air. Menurut Kamal (1994), pencernaan large intestinum dilakukan oleh enzim yang terbawa bersama-sama pakan dari bagian saluran pencernaan sebelumnya atau oleh enzim yang berasal dari aktifitas mikroorganisme. Mikroorganisme tersebut adalah tipe proteolitik yaitu laktobasilus, streptokokus, koliform, bakteroida, klostridia, dan ragi. Di dalam usus besar terjadi sintesis beberapa macam vitamin B yang dapat langsung diabsorpsi untuk dimanfaatkan oleh ternak.
Rektum merupakan bagian dari large intestinum yang berfungsi sebagai tempat penampungan kotoran atau feses sebelum dikeluarkan dari dalam tubuh melalui anus. Rectum lebih lebar daripada large intestinum, namun panjangnya jauh lebih pendek.
Anus merupakan tempat keluarnya feses yaitu hasil-hasil metabolisme yang berwujud padat. Feses menurut Kamal (1994), tersusun dari air, sisa-sisa pakan yang tidak tercerna, getah dari saluran pencernaan, sel-sel epitel usus, bakteri (mikroorganisme), garam organik, indol, skesol, dan hasil-hasil dekomposisi yang lain dari bakteri.

Sistem Digesti Unggas
Unggas adalah jenis ternak bersayap dari klas aves yang telah didomestikasikan dan cara hidupnya diatur oleh manusia dengan tujuan untuk memberikan nilai ekonomis dalam bentuk barang (daging dan telur) dan jasa (pendapatan). Termasuk kelompok unggas adalah ayam (petelur dan pedaging), ayam kampung, itik, kalkun, burung puyuh, burung merpati, dan angsa (Yuwanta, 2000).
Organ pencernaan unggas khususnya ayam terdiri dari mulut (paruh), oesophagus, tembolok (crop), proventikulus, empedal (gizzard), duodenum, jejenum, ileum, coecum, rektum, dan kloaka. Organ pencernaan tambahannya adalah hati, getah empedu, pankreas, dan Lien atau spleen. Mulut unggas berupa paruh untuk mematuk makanan. Unggas tidak mempunyai gigi tetapi mempunyai lidah yang kaku berperan dalam penelanan makanan. Mulut hanya digunakan untuk lewat sesaat. Mulut menghasilkan saliva yang mengandung amilase dan maltase saliva. Saliva juga digunakan untuk membasahi pakan agar mudah ditelan. Produksi saliva 7 sampai 30 ml perhari, tergantung pada jenis pakan. Sekresi saliva dipacu oleh saraf parasimpatik (Yuwanta, 2004).
Dari percobaan digesti unggas yaitu pada ayam diperoleh hasil sebagai berikut :
Tablel 2 Bagian-bagian dan ukuran organ digesti pada unggas
Organ Pencernaan
Ukuran
Panjang (cm)
Lebar (cm)
Oesophagus
Crop
Proventikulus
Gizzard
Small intestinum
-       Duodenum
-       Jejunum
-       ileum
Coeca
-       coecum kiri
-       coecum kanan
Large intestinum
Rektum
Kloaka 
13
3,5
4,5
5
-
40
50
56
-
14,5
15
4
3
5
0,7
2
2
3,8
-
0,7
0,8
0,7
-
0,9
0,7
0,7
2,5
3,5
Oesophagus merupakan saluran lunak dan elastis yang mudah mengalami pemekaran apabila ada bolus yang masuk. Oesophagus memanjang dari pharynx hingga proventrikulus melewati crop. Organ ini menghasilkan mukosa yang berfungsi membantu melicinkan pakan menuju tembolok (Yuwanta, 2004).
Crop atau tembolok merupakan pelebaran oesophagus yang tidak terdapat pada non-ruminansia lain (Hartadi dkk., 2008). Crop digunakan untuk menyimpan pakan sebelum masuk ke dalam proventikulus. Terdapat beberapa bakteri yang aktif, yang dapat menghasilkan asam organik yaitu asam asetat dan asam laktat (Kamal, 1994). Kapasitas crop mampu menampung pakan 250 gram. Terdapat saraf yang berhubungan dengan pusat kenyang-lapar di hipotalamus sehingga banyak sedikitnya pakan yang terdapat dalam tembolok akan memberikan respon pada saraf untuk makan atau menghentikan makan (Yuwanta, 2004).
Proventikulus atau lambung kelenjar merupakan tempat terjadinya pencernaan secara enzimatis yang menyekresikan pepsinogen dan HCl. Setelah pakan bercampur dengan getah lambung, kemudian pakan masuk ke dalam gizzard atau empedal atau empela. Di dalam empedal terjadi pencernaan secara mekanik oleh grit (batu kecil dan pasir berasal dari luar tubuh unggas). Makanan atau biji-bijian dihancurkan sampai menjadi bentuk pasta, kemudian masuk ke dalam usus halus. Menurut Kustono dkk (2008), gizzard bersifat asam dengan pH 2 sampai 3,5 dan tidak ada digesti enzim.
Small intestinum atau usus halus pada unggas juga terdiri dari 3 bagian, yaitu duodenum, jejenum, ileum. Duodenum menyekresikan enzim-enzim berupa Enteropeptidase, Pankreosimin, dan Sekretin. Jejenum dan ileum menyekresikan Disakaridase, Aminopeptidase, Dipeptidase, dan Esterase. Penyerapan sari-sari makanan paling tinggi dalam usus halus yaitu terdapat pada jejenum dan ileum. Pada lipatan duodenum terdapat kelenjar yang disebut pankreas. Di dalam jejenum dan ileum terdai absorpsi nutrient. Pada dinding small intestinum dilapisi oleh fili-fili (Yuwanta, 2000).
Unggas memiliki coecum yaitu sepasang coeca (saluran buntu). Coecum berfungsi dalam penyerapan air. Menurut Yuwanta (2004), coecum berukuran panjang 20 cm. Beberapa nutrien yang tidak tercerna mengalami dekomposisi oleh mikrobia coecum, tetapi jumlah penyerapannya kecil sekali. Beberapa jenis penyakit (misalnya koksidiosis pada ayam dan blackhead pada kalkun) dapat berkembang dengan baik pada coecum. Pada coecum juga terjadi digesti serat kasar yang dilakukan oleh bakteri pencerna serat kasar. Coecum itik lebih berkembang daripada coecum pada ayam.
Large intestinum atau usus besar pada unggas lebih pendek jika dibandingkan dengan usus hewan non-ruminansia lain. Usus besar menyerap zat-zat yang mungkin masih dibutuhkan oleh tubuh unggas dan menyerap air. Pada beberapa sumber buku, disebutkan bahwa large intestinum pada unggas sama dengan rektum. Rektum merupakan penampung kotoran sementara yang terhubung dengan kloaka. Menurut Yuwanta (2004), pada bagian rektum juga bermuara ureter dari ginjal untuk membuang urin yang bercampur dengan feses sehingga feses unggas dinamakan ekskreta.
Kloaka merupakan tempat keluarnya ekskreta (Yuwanta, 2000). Kloaka pada unggas terdiri dari 3 bagian, yaitu kuprodeum, urodeum, dan protodeum. Kuprodeum merupakan muara tempat keluarnya feses. Urodeum merupakan muara tempat keluarnya urin. Protodeum merupakan saluran reproduksi. Feses dari rektum dan telur dari oviduct semuanya lewat kloaka yang kemudian keluar melalui vent.
Organ tambahan dalam system pencernaan yaitu pankreas, hati, limfa, dan Lien. Pankreas merupakan kelenjar yang terdapat pada lipatan duodenum yang mensekresikan getah pankreas, hormon, dan enzim. Getah pankreas berfungsi dalam pencernaan pati, lemak, dan protein. Hormon yang disekresi oleh pankreas yaitu hormon insulin dan glukagon. Hormon insulin berfungsi mengatur kadar gula darah yaitu dengan memecah glukosa menjadi glikogen. Hormon glukagon berfungsi kebalikan dari hormon insulin. Ada pun enzim yang dihasilkan pankreas yaitu enzim amilase, tripsin, dan lipase (Yuwanta, 2000).
Hati atau hepar terletak diantara gizzard dan duodenum. Hati berfungsi mensekresikan getah empedu. Getah empedu berfungsi untuk mengemulsikan lemak, menetralkan asam lambung (HCl), dan membentuk sabun terlarut dengan asam lemak bebas (Yuwanta, 2000).
Llimfa berbentuk agak bundar, berwana kecoklatan. Limfa terletak pada titik antara proventikulus, gizzard, dan hati. Lien atau spleen berfungsi memecah sel darah merah dan sel darah putih. Makanan unggas, terutama protein kasar dalam pakan, mengalami degradasi (Yuwanta, 2000).

Sistem Digesti Kelinci
Mulut. Di dalam mulut terjadi pencernaan secara mekanik yaitu dengan jalan mastikasi. Mastikasi bertujuan untuk memecah pakan agar menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan mencampurnya dengan saliva. Saliva mengandung enzim amilase yang mengubah pati menjadi maltosa agar mudah ditelan (Umar, 1992).
Oesophagus. Kelinci makan dan mengunyah makanannya sekitar 300 kali dan memutar makananannya ke kedua sisis rongga mulut, dan mengunyah makanannya turun ke oesophagus (kerongkongan). Oesophagus merupakan lanjutan dari pharinx dan masuk ke dalam cavum abdominale dan bermuara pada bagian ventrikulus (Anonim, 1990).
Ventrikulus. Lambung kelinci disebut juga ventrikulus yang terdiri dari tiga bagian yaitu bagian awal (kardia), bagian tengah (fundus), dan bagian akhir (pilorus). Ventrikulus berfungsi sebagai tempat penyimpanan pakan dan tempat terjadinya proses pencernaan dimana dinding lambung mensekresikan getah lambung yang terdiri dari air, garam organik, mucus, HCl, pepsinogen, dan faktor intrinsik yang penting untuk efisiensi absorpsi vitamin B 12. Pada umumnya sekitar 0,1 N atau ber-pH lebih kurang dari 2 (Umar, 1992).
Usus halus. Terdiri dari duodenum, jejenum, dan ileum. Kelenjar banner menghasilkan getah duodenum dan disekresikan ke dalam duodenum melalui vili-vili dan getah ini bersifat basa. Getah pankreas yang dihasilkan diekskresikan ke dalam duodenum dan ileum di sebelah caudal ventrikulus dan berfungsi sebagai tempat arbsorpsi makanan (Umar, 1992).
Coecum. Berbentuk seperti kantung berwarna hijau tua keabu-abuan. Coecum di dalamnya makanan disimpan dalam waktu sementara. Pencernaan selulosa dilakukan oleh bakteri yang menghasilkan asam asetat, propionat, dan butirat (Aminudin, 1996).
Intestinum crassum. Colon berjalan ke arah caudal diagonal menyilang coecum. Di sini terdapat asceden dan colon transverasum, colon descenden, colon sigmoideum yang belum jelas (Aminudin, 1996).
Rektum. Rektum merupakan kelanjutan dari colon dan membentuk feses. Rektum berakhir sebagai anus (Aminudin, 1996).
Anus. Feses yang keluar lewat anus mengandung air. Feses merupakan sisa makanan yang tidak tercerna. Cairan dari tracus digestivus, sel-sel epitel usus, mikroorganisme, garam organik, strearol, dan hasil dekomposisi dari bakteri keluar melalui anus (Umar, 1992).

Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa sistem pencernaan ruminansia (poligastrik) pada domba terdiri dari mulut, oesophagus panjang 20cm lebar 2cm, rumen panjang 14cm  lebar 15cm, retikulum panjan 10cm lebar 7,5cm, omasum panjang 7,5cm lebar 5,5cm, abomasum panjang 19cm lebar 6cm, small intestinum (duodenum panjang 85cm lebar 1cm, jejenum panjang 713cm lebar 0,9cm, dan ileum panjang 506cm lebar 1cm), coeca panjang 52cm lebar 2,8cm, large intestinum panjang 212cm lebar 1,6cm, rektum panjang 32cm lebar 1,8cm, dan anus panjang 6cm lebar 2,5cm. Abomasum merupakan lambung sejati pada ruminansia.
Sistem pencernaan non-ruminansia (monogastrik) pada ayam terdiri dari mulut atau paruh, oesophagus panjang 13cm lebar 0,7cm, crop panjang 3,5cm lebar 2cm, proventrikulus panjang 4,5cm lebar 2cm, gizzard panjang 5cm lebar 3,8cm, small intestinum (duodenum panjang 40cm lebar 0,7 cm, jejenum panjang 50cm lebar 0,8cm, dan ileum panjang 56cm lebar 0,7cm), coecum kanan panjang 15cm lebar 0,7cm, coecum kiri panjang 14,5cm lebar 0,9cm, large intestinum panjang 4cm lebar 0,7cm, rektum panjang 3cm lebar 2,5cm, dan kloaka (kuprodeum, urodeum, dan protodeum) sepanjang 5cm dan lebarnya 3,5cm.
Sistem pencernaan kelinci terdiri dari mulut, oesophagus, stomach, small intestinum, caecum, colon, rektum, dan anus.

Daftar Pustaka

Anonim. 2000. Sistem Pencernaan Kelinci. Available at http://kelincihias-semarang.com/index.php?option=com_content&view=article&id=236:sistem-pencernaan-kelinci&catid=41:umum. Diakses pada hari Jumat, 23 April 2011 pukul 10.05 WIB

Anonim. 1990. Anantomi Hewan. Yogyakarta. Laboratorium Anantomi Hewan. Fakultas Biologi. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta

Aminudin. 1996. Hijauan Makanan Ternak. Kanisius. Yogyakarta

Frandson R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Hartadi, H., Kustantinah, E. Indarto, N.D. Dono, dan Zuprizal. 2008. Bahan Ajar. Nutrisi Ternak Dasar. Bagian Nutrisi dan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan UGM

Kamal, Muhammad. 1994. Nutrisi Ternak 1. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Press. Yogyakarta.

Kustono, D.T. Widayati, Ismaya, dan S. Bintara. 2008. Bahan Ajar. Fisiologi Ternak. Laboratorium Fisiologi dan Reproduksi Ternak. Bagian Produksi Ternak. Fakultas Peternakan. UGM

Purbowati, Endang. 2009. Usaha Penggemukan Domba. Penebar Swadaya. Depok

Sakaguchi, E. 1992. Fibre digestion and digesta retention from different physical forms of the  feed in the rabbit. Comparative Biochemistry and Physiology 102A, no. 3: 559-63.

Srigandono, B. 1996. Kamus Istilah Peternakan. Edisi Revisi. Gadjah Mada University Press.

Umar. 1992. Beternak Kelinci Potong. Penebar Swadaya. Depok

Yuwanta, Tri. 2000. Dasar Ternak Unggas. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta

Yuwanta, Tri. 2004. Dasar Ternak Unggas. Kanisius. Yogyakart

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar